Kamis, 18 Juli 2013

Peminat Naik, UMM Tetap Jaga Kualitas dan Kepercayaan

Sejumlah 6.411 calon mahasiswa baru mengikuti seleksi masuk Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) gelombang II, Senin (15/7). Jumlah ini meningkat dibanding gelombang yang sama tahun lalu yang diikuti 5.220 calon.
Kepala UPT Penerimaan Mahasiswa Baru (PMB) UMM, Dr Eramanu Azizulhakim, menerangkan kenaikan jumlah pendaftar membuatnya harus menyiapkan ruang tes jauh lebih banyak. Hampir seluruh ruangan di kampus III UMM digunakan untuk tes yang dilaksanakan serentak dalam sehari tersebut. Selain ruangan kelas di Gedung Kuliah Bersama II, II dan III, UMM Dome dan aula masjid AR Fahruddin juga menjadi lokasi pengerjaan soal UMM Scholastic test.
Sebelumnya, pada proses pendaftaran dan seleksi jalur undangan dan gelombang I telah terjaring 2.774 calon mahasiswa. Jumlah tersebut merupakan saringan dari sekitar 4.600 calon peminat. UMM masih membuka pendaftaran pada gelombang III hingga 24 Agustus mendatang namun tidak untuk semua Program Studi. “Bagi yang belum berhasil di gelombang II ini masih kita beri kesempatan untuk mempersiapkan lebih baik lagi pada gelombang III,” tambah Ermanu.  
Mengantisipasi kecurangan sebagaimana ditemukan pada tes gelombang I Maret lalu, pihak UMM kembali melakukan langkah taktis. Peserta diperiksa secara ketat namun tetap tidak mengganggu jalannya tes. Pemeriksaan secara ketat itu justru dinilai positif oleh peserta yang memang jujur. “Ya senang sih. Jadinya tenang karena saingannya tidak dengan orang yang pakai joki,” kata Bayu, salah seorang calon peserta tes.
Pembantu Rektor I, Prof Dr Bambang Widagdo, MM bersyukur tahun ini peminat UMM akan mengalami peningkatan. Secara teknis kenaikan itu bisa disebabkan bertambahnya program studi yang dibuka, maupun non teknis yang disebabkan semakin membaiknya kesadaran masyarakat pada perguruan tinggi. “Angka lulusan SMA yang melanjutkan ke universitas di Indonesia masih relatif kecil dibanding di negara-negara lain. Tahun ini mudah-mudahan memang karena peningkatan kesadaran studi ke perguruan tinggi ini,” ungkapnya.
Dalam kesempatan itu, Ketua Badan Pembina Harian (BPH) UMM, Prof. Dr. HA Malik Fadjar ikut memantau jalannya tes. Kepada wartawan mantan Mendiknas ini mengajak kita semua menunjung kejujuran. Bangsa ini sudah diwarnai dengan praktik kecurangan yang memprihatinkan. “Kalau mau masuk universitas saja harus dengan cara curang, bagaimana jika nanti sudah jadi orang,” tegasnya.
Ditambahkannya, tantangan paling berat adalah apakah kita memberi toleransi pada pemyimpangan-penyimpangan yang ada atau kita tegakkan karena erat kaitannya dengan kepercayaan. UMM, kata Malik, dibangun dengan kualitas dan kepercayaan masyarakat yang tinggi, jadi itu harus selalu dijaga.
Hasil seleksi kemarin akan diumumkan Kamis (18/7) melalui papan pengumuman di kampus UMM dan websitenya. Peserta yang lolos bisa mulai melakukan heregistrasi hingga 27 Juli mendatang. (mal/nes/nas)

Evolusi Informasi Tekhnologi

 Richardus Eko Indrajit

Tidak dapat disangkal bahwa salah satu penyebab utama terjadinya era globalisasi yang datangnya lebih
cepat dari dugaan semua pihak adalah karena perkembangan pesat teknologi informasi. Implementasi
internet, electronic commerce, electronic data interchange, virtual office, telemedicine, intranet, dan lain
sebagainya telah menerobos batas-batas fisik antar negara. Penggabungan antara teknologi komputer
dengan telekomunikasi telah menghasilkan suatu revolusi di bidang sistem informasi. Data atau informasi
yang pada jaman dahulu harus memakan waktu berhari-hari untuk diolah sebelum dikirimkan ke sisi lain di
dunia, saat ini dapat dilakukan dalam hitungan detik. Tidak berlebihan jika salah satu pakar IBM
menganalogikannya dengan perkembangan otomotif sebagai berikut: “seandainya dunia otomotif
mengalami kemajuan sepesat teknologi informasi, saat ini telah dapat diproduksi sebuah mobil berbahan
bakar solar, yang dapat dipacu hingga kecepatan maximum 10,000 km/jam, dengan harga beli hanya sekitar
1 dolar Amerika !”. Secara mikro, ada hal cukup menarik untuk dipelajari, yaitu bagaimana evolusi
perkembangan teknologi informasi yang ada secara signifikan mempengaruhi persaingan antara
perusahaan-perusahaan di dunia, khususnya yang bergerak di bidang jasa. Secara garis besar, ada empat
periode atau era perkembangan sistem informasi, yang dimulai dari pertama kali diketemukannya komputer
hingga saat ini. Keempat era tersebut terjadi tidak hanya karena dipicu oleh perkembangan teknologi
komputer yang sedemikian pesat, namun didukung pula oleh teori-teori baru mengenai manajemen
perusahaan modern. Keempat era tersebut (Cash et.al., 1992) terjadi tidak hanya karena dipicu oleh
perkembangan teknologi komputer yang sedemikian pesat, namun didukung pula oleh teori-teori baru
mengenai manajemen perusahaan modern. Ahli-ahli manajemen dan organisasi seperti Peter Drucker,
Michael Hammer, Porter, sangat mewarnai pandangan manajemen terhadap teknologi informasi di era
modern. Oleh karena itu dapat dimengerti, bahwa masih banyak perusahaan terutama di negara
berkembang (dunia ketiga), yang masih sulit mengadaptasikan teori-teori baru mengenai manajemen,
organisasi, maupun teknologi informasi karena masih melekatnya faktor-faktor budaya lokal atau setempat
yang mempengaruhi behavior sumber daya manusianya. Sehingga tidaklah heran jika masih sering ditemui
perusahaan dengan peralatan komputer yang tercanggih, namun masih dipergunakan sebagai alat-alat
administratif yang notabene merupakan era penggunaan komputer pertama di dunia pada awal tahun 1960-
an.
ERA KOMPUTERISASI
Periode ini dimulai sekitar tahun 1960-an ketika mini computer dan mainframe diperkenalkan perusahaan
seperti IBM ke dunia industri. Kemampuan menghitung yang sedemikian cepat menyebabkan banyak
sekali perusahaan yang memanfaatkannya untuk keperluan pengolahan data (data processing). Pemakaian
komputer di masa ini ditujukan untuk meningkatkan efisiensi, karena terbukti untuk pekerjaan-pekerjaan
2
tertentu, mempergunakan komputer jauh lebih efisien (dari segi waktu dan biaya) dibandingkan dengan
mempekerjakan berpuluh-puluh SDM untuk hal serupa. Pada era tersebut, belum terlihat suasana kompetisi
yang sedemikian ketat. Jumlah perusahaan pun masih relatif sedikit. Kebanyakan dari perusahaanperusahaan
besar secara tidak langsung “memonopoli pasar-pasar tertentu, karena belum ada pesaing yang
berarti. Hampir semua perusahaan-perusahaan besar yang bergerak di bidang infrastruktur (listrik dan
telekomunikasi) dan pertambangan pada saat itu membeli perangkat komputer untuk membantu kegiatan
administrasinya sehari-hari. Keperluan organisasi yang paling banyak menyita waktu komputer pada saat
itu adalah untuk administrasi back office, terutama yang berhubungan dengan akuntansi dan keuangan. Di
pihak lain, kemampuan mainframe untuk melakukan perhitungan rumit juga dimanfaatkan perusahaan
untuk membantu menyelesaikan problem-problem teknis operasional, seperti simulasi-simulasi perhitungan
pada industri pertambangan dan manufaktur.
Teori-teori manajemen organisasi modern secara intensif mulai diperkenalkan di awal tahun 1980-an. Salah
satu teori yang paling banyak dipelajari dan diterapkan adalah mengenai manajemen perubahan (change
management). Hampir di semua kerangka teori manajemen perubahan ditekankan pentingnya teknologi
informasi sebagai salah satu komponen utama yang harus diperhatikan oleh perusahaan yang ingin menang
dalam persaingan bisnis. Tidak seperti pada kedua era sebelumnya yang lebih menekankan pada unsur
teknologi, pada era manajemen perubahan ini yang lebih ditekankan adalah sistem informasi, dimana
komputer dan teknologi informasi merupakan komponen dari sistem tersebut. Kunci dari keberhasilan
perusahaan di era tahun 1980-an ini adalah penciptaan dan penguasaan informasi secara cepat dan akurat.
Informasi di dalam perusahaan dianalogikan sebagai darah dalam peredaran darah manusia yang harus
selalu mengalir dengan teratur, cepat, terus-menerus, ke tempat-tempat yang membutuhkannya (strategis).
Ditekankan oleh beberapa ahli manajemen, bahwa perusahaan yang menguasai informasilah yang memiliki
keunggulan kompetitif di dalam lingkungan makro “regulated free market”.

Tidak dapat disangkal bahwa salah satu penyebab utama terjadinya era globalisasi yang datangnya lebih
cepat dari dugaan semua pihak adalah karena perkembangan pesat teknologi informasi. Implementasi
internet, electronic commerce, electronic data interchange, virtual office, telemedicine, intranet, dan lain
sebagainya telah menerobos batas-batas fisik antar negara. Penggabungan antara teknologi komputer
dengan telekomunikasi telah menghasilkan suatu revolusi di bidang sistem informasi. Data atau informasi
yang pada jaman dahulu harus memakan waktu berhari-hari untuk diolah sebelum dikirimkan ke sisi lain di
dunia, saat ini dapat dilakukan dalam hitungan detik. Tidak berlebihan jika salah satu pakar IBM
menganalogikannya dengan perkembangan otomotif sebagai berikut: “seandainya dunia otomotif
mengalami kemajuan sepesat teknologi informasi, saat ini telah dapat diproduksi sebuah mobil berbahan
bakar solar, yang dapat dipacu hingga kecepatan maximum 10,000 km/jam, dengan harga beli hanya sekitar
1 dolar Amerika !”. Secara mikro, ada hal cukup menarik untuk dipelajari, yaitu bagaimana evolusi
perkembangan teknologi informasi yang ada secara signifikan mempengaruhi persaingan antara
perusahaan-perusahaan di dunia, khususnya yang bergerak di bidang jasa. Secara garis besar, ada empat
periode atau era perkembangan sistem informasi, yang dimulai dari pertama kali diketemukannya komputer
hingga saat ini. Keempat era tersebut terjadi tidak hanya karena dipicu oleh perkembangan teknologi
komputer yang sedemikian pesat, namun didukung pula oleh teori-teori baru mengenai manajemen
perusahaan modern. Keempat era tersebut (Cash et.al., 1992) terjadi tidak hanya karena dipicu oleh
perkembangan teknologi komputer yang sedemikian pesat, namun didukung pula oleh teori-teori baru
mengenai manajemen perusahaan modern. Ahli-ahli manajemen dan organisasi seperti Peter Drucker,
Michael Hammer, Porter, sangat mewarnai pandangan manajemen terhadap teknologi informasi di era
modern. Oleh karena itu dapat dimengerti, bahwa masih banyak perusahaan terutama di negara
berkembang (dunia ketiga), yang masih sulit mengadaptasikan teori-teori baru mengenai manajemen,
organisasi, maupun teknologi informasi karena masih melekatnya faktor-faktor budaya lokal atau setempat
yang mempengaruhi behavior sumber daya manusianya. Sehingga tidaklah heran jika masih sering ditemui
perusahaan dengan peralatan komputer yang tercanggih, namun masih dipergunakan sebagai alat-alat
administratif yang notabene merupakan era penggunaan komputer pertama di dunia pada awal tahun 1960-
an.
ERA KOMPUTERISASI
Periode ini dimulai sekitar tahun 1960-an ketika mini computer dan mainframe diperkenalkan perusahaan
seperti IBM ke dunia industri. Kemampuan menghitung yang sedemikian cepat menyebabkan banyak
sekali perusahaan yang memanfaatkannya untuk keperluan pengolahan data (data processing). Pemakaian
komputer di masa ini ditujukan untuk meningkatkan efisiensi, karena terbukti untuk pekerjaan-pekerjaan
2
tertentu, mempergunakan komputer jauh lebih efisien (dari segi waktu dan biaya) dibandingkan dengan
mempekerjakan berpuluh-puluh SDM untuk hal serupa. Pada era tersebut, belum terlihat suasana kompetisi
yang sedemikian ketat. Jumlah perusahaan pun masih relatif sedikit. Kebanyakan dari perusahaanperusahaan
besar secara tidak langsung “memonopoli pasar-pasar tertentu, karena belum ada pesaing yang
berarti. Hampir semua perusahaan-perusahaan besar yang bergerak di bidang infrastruktur (listrik dan
telekomunikasi) dan pertambangan pada saat itu membeli perangkat komputer untuk membantu kegiatan
administrasinya sehari-hari. Keperluan organisasi yang paling banyak menyita waktu komputer pada saat
itu adalah untuk administrasi back office, terutama yang berhubungan dengan akuntansi dan keuangan. Di
pihak lain, kemampuan mainframe untuk melakukan perhitungan rumit juga dimanfaatkan perusahaan
untuk membantu menyelesaikan problem-problem teknis operasional, seperti simulasi-simulasi perhitungan
pada industri pertambangan dan manufaktur.
Teori-teori manajemen organisasi modern secara intensif mulai diperkenalkan di awal tahun 1980-an. Salah
satu teori yang paling banyak dipelajari dan diterapkan adalah mengenai manajemen perubahan (change
management). Hampir di semua kerangka teori manajemen perubahan ditekankan pentingnya teknologi
informasi sebagai salah satu komponen utama yang harus diperhatikan oleh perusahaan yang ingin menang
dalam persaingan bisnis. Tidak seperti pada kedua era sebelumnya yang lebih menekankan pada unsur
teknologi, pada era manajemen perubahan ini yang lebih ditekankan adalah sistem informasi, dimana
komputer dan teknologi informasi merupakan komponen dari sistem tersebut. Kunci dari keberhasilan
perusahaan di era tahun 1980-an ini adalah penciptaan dan penguasaan informasi secara cepat dan akurat.
Informasi di dalam perusahaan dianalogikan sebagai darah dalam peredaran darah manusia yang harus
selalu mengalir dengan teratur, cepat, terus-menerus, ke tempat-tempat yang membutuhkannya (strategis).
Ditekankan oleh beberapa ahli manajemen, bahwa perusahaan yang menguasai informasilah yang memiliki
keunggulan kompetitif di dalam lingkungan makro “regulated free market”.

Tidak dapat disangkal bahwa salah satu penyebab utama terjadinya era globalisasi yang datangnya lebih
cepat dari dugaan semua pihak adalah karena perkembangan pesat teknologi informasi. Implementasi
internet, electronic commerce, electronic data interchange, virtual office, telemedicine, intranet, dan lain
sebagainya telah menerobos batas-batas fisik antar negara. Penggabungan antara teknologi komputer
dengan telekomunikasi telah menghasilkan suatu revolusi di bidang sistem informasi. Data atau informasi
yang pada jaman dahulu harus memakan waktu berhari-hari untuk diolah sebelum dikirimkan ke sisi lain di
dunia, saat ini dapat dilakukan dalam hitungan detik. Tidak berlebihan jika salah satu pakar IBM
menganalogikannya dengan perkembangan otomotif sebagai berikut: “seandainya dunia otomotif
mengalami kemajuan sepesat teknologi informasi, saat ini telah dapat diproduksi sebuah mobil berbahan
bakar solar, yang dapat dipacu hingga kecepatan maximum 10,000 km/jam, dengan harga beli hanya sekitar
1 dolar Amerika !”. Secara mikro, ada hal cukup menarik untuk dipelajari, yaitu bagaimana evolusi
perkembangan teknologi informasi yang ada secara signifikan mempengaruhi persaingan antara
perusahaan-perusahaan di dunia, khususnya yang bergerak di bidang jasa. Secara garis besar, ada empat
periode atau era perkembangan sistem informasi, yang dimulai dari pertama kali diketemukannya komputer
hingga saat ini. Keempat era tersebut terjadi tidak hanya karena dipicu oleh perkembangan teknologi
komputer yang sedemikian pesat, namun didukung pula oleh teori-teori baru mengenai manajemen
perusahaan modern. Keempat era tersebut (Cash et.al., 1992) terjadi tidak hanya karena dipicu oleh
perkembangan teknologi komputer yang sedemikian pesat, namun didukung pula oleh teori-teori baru
mengenai manajemen perusahaan modern. Ahli-ahli manajemen dan organisasi seperti Peter Drucker,
Michael Hammer, Porter, sangat mewarnai pandangan manajemen terhadap teknologi informasi di era
modern. Oleh karena itu dapat dimengerti, bahwa masih banyak perusahaan terutama di negara
berkembang (dunia ketiga), yang masih sulit mengadaptasikan teori-teori baru mengenai manajemen,
organisasi, maupun teknologi informasi karena masih melekatnya faktor-faktor budaya lokal atau setempat
yang mempengaruhi behavior sumber daya manusianya. Sehingga tidaklah heran jika masih sering ditemui
perusahaan dengan peralatan komputer yang tercanggih, namun masih dipergunakan sebagai alat-alat
administratif yang notabene merupakan era penggunaan komputer pertama di dunia pada awal tahun 1960-
an.
ERA KOMPUTERISASI
Periode ini dimulai sekitar tahun 1960-an ketika mini computer dan mainframe diperkenalkan perusahaan
seperti IBM ke dunia industri. Kemampuan menghitung yang sedemikian cepat menyebabkan banyak
sekali perusahaan yang memanfaatkannya untuk keperluan pengolahan data (data processing). Pemakaian
komputer di masa ini ditujukan untuk meningkatkan efisiensi, karena terbukti untuk pekerjaan-pekerjaan
2
tertentu, mempergunakan komputer jauh lebih efisien (dari segi waktu dan biaya) dibandingkan dengan
mempekerjakan berpuluh-puluh SDM untuk hal serupa. Pada era tersebut, belum terlihat suasana kompetisi
yang sedemikian ketat. Jumlah perusahaan pun masih relatif sedikit. Kebanyakan dari perusahaanperusahaan
besar secara tidak langsung “memonopoli pasar-pasar tertentu, karena belum ada pesaing yang
berarti. Hampir semua perusahaan-perusahaan besar yang bergerak di bidang infrastruktur (listrik dan
telekomunikasi) dan pertambangan pada saat itu membeli perangkat komputer untuk membantu kegiatan
administrasinya sehari-hari. Keperluan organisasi yang paling banyak menyita waktu komputer pada saat
itu adalah untuk administrasi back office, terutama yang berhubungan dengan akuntansi dan keuangan. Di
pihak lain, kemampuan mainframe untuk melakukan perhitungan rumit juga dimanfaatkan perusahaan
untuk membantu menyelesaikan problem-problem teknis operasional, seperti simulasi-simulasi perhitungan
pada industri pertambangan dan manufaktur.
Teori-teori manajemen organisasi modern secara intensif mulai diperkenalkan di awal tahun 1980-an. Salah
satu teori yang paling banyak dipelajari dan diterapkan adalah mengenai manajemen perubahan (change
management). Hampir di semua kerangka teori manajemen perubahan ditekankan pentingnya teknologi
informasi sebagai salah satu komponen utama yang harus diperhatikan oleh perusahaan yang ingin menang
dalam persaingan bisnis. Tidak seperti pada kedua era sebelumnya yang lebih menekankan pada unsur
teknologi, pada era manajemen perubahan ini yang lebih ditekankan adalah sistem informasi, dimana
komputer dan teknologi informasi merupakan komponen dari sistem tersebut. Kunci dari keberhasilan
perusahaan di era tahun 1980-an ini adalah penciptaan dan penguasaan informasi secara cepat dan akurat.
Informasi di dalam perusahaan dianalogikan sebagai darah dalam peredaran darah manusia yang harus
selalu mengalir dengan teratur, cepat, terus-menerus, ke tempat-tempat yang membutuhkannya (strategis).
Ditekankan oleh beberapa ahli manajemen, bahwa perusahaan yang menguasai informasilah yang memiliki
keunggulan kompetitif di dalam lingkungan makro “regulated free market”.

KRONOLOGIS HISTORIS SEJARAH DAN PERKEMBANGAN ILMU PENGETAHUAN

ISNA ASTARINI
09710086
Human culture characterized by the development of science and technology rapidly that a result the role and influence of Western philosophical thought. Early in its development, the days of ancient Greece, philosophy identified with science. The point is between philosophical thinking and science are not separated, so that all human thought which emerged at that time called philosophy. In the Middle Ages, became synonymous with the philosophy of religion, philosophical thought at the time that it becomes one with church dogma. In the 15th century came the Renaissance was followed by Aufklaerung the 18th century that brought changes to the philosophical outlook. At this time separating themselves from the philosophy of religion, so that makes people come forward and speak without fear they will be punished by the church. Modern secular philosophy remains as the Renaissance, the difference is that in this age of science split from philosophy and began to develop into several branches that happen quickly. Even in the 20th century, science began to develop into a variety of specialties and sub-specialties.

Science is a system initially developed to determine the state of the environment disekitanya. Moreover, science is also created to help people's lives easier. In the 20th century, and towards the 21st century, science has become something substantive that dominate human life. However, not only that, science has developed so rapidly that also has caused a humanitarian crisis in life. It is driven by the tendency of human problem solving more bersifsat sector. One attempt to solve the increasingly complex problems that humanity is to study the development of philosophical thinking.

Development of western philosophy is divided into a number of periodization is based on the dominant characteristics of the era. Those periods are:

   1. 1. Ancient Greece (Ages 6SM-6M)

Characterize the thinking is cosmocentric, which questioned the origin of the universe and the universe as an effort to discover the origin (arche) which is an element of the onset of symptoms. And several prominent philosophers of our times expressed his opinion about the arches, among others:

    * Thales (640-550 BC): arche form of water
    * Anaximander (611-545 BC): arche form apeiron (the infinitive)
    * Anaximenes (588-524 BC): arche be air
    * Pythagoras (580-500 BC): arches can be explained on the basis of numbers.

In addition to the above four figures there are two philosophers, namely Herakleitos (540-475 BC) and Parmindes (540-475 BC) who questioned whether the reality was changed, not into something permanent. Another Greek thinker is one who was instrumental in the development of science is Democritus (460-370 BC) which asserts that reality consists of many elements called atoms (atomos, from a-not, and Tomos-divided). In addition, the philosopher Socrates is often discussed (470-399 BC) who directly use the direct method of philosophy in everyday life known as dialectic (dialegesthai) which means conversing. It is also passed on by Plato (428-348 BC). And philosophical thought this time culminating in a Aristotle (384-322 BC) who said that the main task of science is the search for the causes of the investigated object. He also believes that every event must have a four because, among other causes of material, formal cause, efficient cause and the final cause.

   1. 2. Middle Ages (6-16M)

Thinking characteristic of our times is theocentric use of philosophical thinking to strengthen Christian religious dogma. At the time of European thought is constrained by the necessity of compliance with religious teachings. Philosophy of Augustine (354-430) were influenced by Plato, is a philosophical thought that discussed the state took part, namely the idea that knowledge creation is a state that is part of God's ideas. While Thomas Aquinas (1125-1274) who follow a philosophy of Aristotle, the theory of the creation which God produces creation out of nothing. In addition, the creation also means constantly producing and maintaining creation.

3. The Renaissance (14-16M)

Is an age concerned in the arts, philosophy, science and technology. This era is also known as the return of the era of human liberty in thought. Figures such as the philosopher of this age is Nicolaus Copernicus (1473-1543) who argued heliosentrisme theory, in which the sun is the center of the universe. And Francis Bacon (1561-1626) who pioneered the philosophy of science with the famous expression "knowledge is power"

   1. 4. Modern Age (17-19M)

Patterned anthropocentric philosophy of this age, which makes the human being as the center of attention of philosophical inquiry. In addition, the main topic is the problem of epistemology.

   1. a. Rationalism

This stream found sense is a source of adequate knowledge and trustworthy. Experience is only used to corroborate the truth of the knowledge that has been gained through reason. One of the characters was Rene Descartes (1598-1650) who is also the founder of modern philosophy, known by his statement Cogito Ergo Sum (I think, therefore I am). Descartes method used is called the a priori which literally means based on the things that precede. The point is to use this method as if the man had to know for sure all the symptoms that occur.

   1. b. Empiricism

Stated that the source of knowledge is experience, both physically and spiritually. Sense only function and duty to manage and process the data obtained from the experience. The method used is a posteriori or a method based on the things that happen in later. Spearheaded by Francis Bacon who introduced the experimental method.

   1. c. Criticism

A theory of knowledge that seeks to unite the two different views between Rationalism and Empiricism pioneered by Immanuel Kant (1724-1804). He argues that the knowledge gained is the result of the cooperation between the two components, namely the nature of sensory experience and how to cultivate the impression that would cause the relationship between cause and effect.

   1. d. Idealism

Starting from the union of two different Idealism between Subjective Idealism (Fitche) and Objective Idealism (Scelling) by Hegel (1770-1931) became the philosophy of absolute idealism. Hegel argues that the mind is the essence of nature and nature is the whole soul diobyektifkan. The principle of idealism is the belief of the meaning and structure of thought in the world which is the basic intuition.

   1. e. Positivism

Founded by Auguste Comte (1798-1857) who only accept the facts found to be positively scientific. Well-known motto is Prévoir pour savoir, which means to know to be ready for action. The point is that people should be aware of the symptoms and the relationships between symptoms so that he can predict what will happen. This philosophy is also known for its schools of empiricism-critical, observations with theory go hand in hand. He divided the society into social statics and social dynamics.

   1. f. Marxism

Its founder was Karl Marx (1818-1883) is the flow of his philosophy is a blend of the dialectical method of Hegel and Feuerbach. Marx taught that history is run by a logic of its own, and the history of the motor consists of social economic laws. For him philosophy is not just about knowledge and the will, but the actions, ie commit a change, not just to interpret the world. That needs to be changed is the protelar should be able to take over the role of the bourgeois and capitalist revolution through, so that people are no longer oppressed.

   1. 5. Contemporary Period (20th century onwards)

The bottom line is known as logosentris, the text becomes a central theme of the discourse of the philosophers. This is because the expressions of philosophy tends to be confusing and difficult to understand. Though the task of philosophy is not just to make a statement about something, but also solve the problems arising from misunderstanding of the logic language, and give a logical explanation on the ideas expressed.

At this time appeared various schools of philosophy and most of these streams is a continuation of the schools of philosophy that had developed in previous times, such as Neo-Thomism, Neo-Marxism, Neo-Positivism and so on.